Emosi Manusia di Dalam Al-Qur’an

 

Suatu hal niscaya dalam kehidupan manusia adalah fakta tentang sikap dan perilaku sehari-hari yang mencerminkan perasaan seperti rasa senang, sedih, marah, jengkel, muak, dan sebagainya. Tidak jarang dijumpai seseorang yang wajahnya berubah menjadi merah padam (dalam ungkapan al-Qur’ân, muswaddan), pucat pasih, atau berseri-seri (musfirah), karena ada peristiwa emosional yang dialaminya saat itu. Hanya saja, ungkapan yang sering digunakan oleh masyarakat sehari-hari untuk memaknai emosi sering kali terbatas pada sikap dan perilaku marah saja. Padahal, cakupan emosi itu amatlah luas, tidak hanya terbatas pada sikap dan perilaku marah. Orang yang takjub saja, sebagaimana yang dialami istri Nabi Ibrahim ketika di usia senjanya dikabari akan memperoleh anak (Q.S. Hûd [11]: 72), sekelompok wanita terhormat berdecak kagum menyaksikan ketampanan Nabi Yusuf (Q.S. Yûsuf [12]: 30-32). Atau, orang-orang yang diidentifikasi sebagai al-bakkâûn, yakni mereka yang mencucurkan air mata sedih karena tidak bisa ikut dalam suatu perang membela Islam (Q.S. al-Tawbah [9]: 92). Sementara yang bersifat eksplosif seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Musa ketika marah kepada kaumnya lalu melampiaskannya dengan membanting prasasti (al-alwâh) yang ada di tangannya (Q.S. al-A‘râf [7]: 150). Pendek kata, emosi yang dialami manusia cakupannya sangat luas, sehingga Daniel Goleman (1997:411) menggambarkan bahwa kosakata yang kita miliki tak mampu menyebutkan secara persis keseluruhan emosi yang kita rasakan. Namun, para ahli mencoba mengklasifikasi emosi menjadi dua kelompok besar: emosi dasar (primer emotion) dan emosi campuran (mixed emotion).

Jenis emosi yang telah disepakati oleh para ahli sebagai emosi dasar adalah: emosi senang/bahagia (joy, الابتهاج), marah (anger, الغضب), sedih (sadness, الحزن), takut (fear, الخوف), benci/jijik (disgust, الاشمئزاز), dan heran/kaget (surprise, المفاجأة). Para ahli menyimpulkan bahwa keenam emosi ini yang diidentifikasi dirasakan oleh semua manusia di dunia. Emosi-emosi dasar tersebut adakalanya bercampur antara satu dan yang lain, misalnya antara marah dan benci, heran dan takut, benci dan rindu, dan sebagainya. Percampuran itu bisa terjadi sangat variatif sehingga sulit dipilah dan diberi nama, persis percampuran tiga warna dasar (magenta, biru, kuning) yang memungkinkan terciptanya nuansa warna tak berhingga.

Keterbangkitan emosi ditandai oleh adanya perubahan faali (fisiologis) dan terekspresikan dalam bentuk sikap atau tingkah laku. Perubahan faali di saat emosi oleh al-Qur’ân diindikasikan antara lain dalam bentuk degup jantung (‘wajilat qulūbuhum’ – Q.S. al-Anfâl [8]: 2, Q.S. al-Hajj [22]: 35), GSR (galvanic skin response) atau reaksi kulit (‘taqsya‘irru minhu julûd’ – Q.S. al-Zumar [39]: 23), reaksi pupil mata (‘tasykhashu fîh al-abshâr’ – Q.S. Ibrâhîm [14]: 42; Q.S. al-Anbiyâ’ [21]: 97), reaksi perna­pasan (‘shadrahû dhayyiqan’ – Q.S. al-An‘âm [6]: 125, Q.S. al-Hijr [15]: 97, Q.S. al-Syu‘arâ’ [26]: 13 atau ungkapan seperti ‘balaghat al-qulûb al-hanâjir’ – Q.S. al-Ahzâb [33]: 10). Sedangkan ekspresi yang dapat disaksikan antara lain wajah berseri-seri bahagia (‘wujûhun yawma’idzin musfirah, dhâhikah mustabsyirah’ – ‘Abasa [80]: 38-39), wajah hitam pekat atau merah padam (‘wajhuhû mus­waddâ’ – Q.S. al-Nahl [16]: 58; Q.S. al-Zumar [39]: 60; Q.S. al-Zukhruf [43]: 17), pandangan tidak konsentrasi (‘zâghat al-abshâr’ – Q.S. al-Ahzâb [33]: 10; Shâd [38]: 63; Q.S. al-Najm [53]: 17), menutup telinga karena ketakutan (‘yaj’alûna ashâbi‘a-hum fî âdzâni-him min al-shawâ‘iq hadzara al-mawt’ – Q.S. al-Baqarah [2]: 19), menggigit ujung jemari (‘adhdhû ‘alaykum al-anâmila min al-ghayzh’ – Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 119), reaksi kinestetis dengan membolak-balik telapak tangan karena kesal (‘yuqallibu kaffayh’ – Q.S. al-Kahf [18]: 42).

Ekspresi wajah merupakan ekspresi paling umum terjadi ketika seseorang mengalami peristiwa emosi. Gambaran al-Qur’ân tentang ekspresi wajah yang berseri-seri atau muram berdebu (Q.S. ‘Abasa [80]: 38-40) atau ekspresi bagian-bagian dari wajah boleh jadi karena wajah adalah cerminan jiwa manusia yang bersifat universal dan lintas kultural, dikenali oleh berbagai etnis di dunia dengan pola-pola yang sama. Ia bersifat bawaan (heredity) karena ternyata bayi yang terlahir buta tuli sekalipun mampu melakukannya, meskipun kemudian diperkaya oleh berbagai pengalaman dalam berinteraksi dengan orang lain. Menurut Davidoff (1987:327): “We saw that people everywhere communicate basic emotions with the same facial expressions and find it easy to identify basic emotions from facial expressions. We described how young babies, including those born blind and deaf, use these same expressions to communicate their feelings. The universality of basic facial expressions suggests that they are programmed into human beings by heredity.” (Kita menyaksikan bahwa manusia di bagian dunia manapun mengomunikasikan emosi dasar dengan ekspresi wajah yang sama, dan kita pun mendapatkan bahwa suatu hal yang mudah untuk mengenali emosi dasar melalui ekspresi wajah. Kita menggambarkan bagaimana seorang bayi, termasuk mereka yang dilahirkan dalam keadaan buta dan tuli, menggunakan ekspresi yang sama ini untuk mengomunikasikan perasaan mereka. Universalitas ekspresi wajah dasar ini mengisyaratkan bahwa hal itu diprogramkan ke dalam diri manusia secara turun-temurun).

Emosi Dasar dalam al-Qur’ân

Kosakata yang berdenotasi emosi tidak dijumpai secara spesifik di dalam al-Qur’ân, tetapi bertebaran ayat yang berbicara atau berkaitan dengan perilaku emosi yang ditampilkan manusia dalam berbagai peristiwa kehidupan. Ungkapan al-Qur’ân tentang emosi digambarkan langsung bersama peristiwa yang sedang terjadi. Berbagai peristiwa emosional dijelaskan oleh al-Qur’ân meskipun topik utamanya (main topic) bukan masalah emosi. Emosi yang muncul pada umumnya merupakan gambaran selintas terkait dengan main topic yang sedang dijelaskan atau diceritakan, sehingga mufasir pun kadang-kadang tidak tertarik untuk menjelaskan secara rinci hal itu.

Berikut ini akan dijelaskan emosi-emosi dasar yang diisyaratkan oleh al-Qur’ân dalam kaitannya dengan sejarah peradaban umat manusia di masa lampau, sikap dan perilaku mereka yang terus berlangsung, serta gambaran emosi manusia dalam kehidupan di akhirat, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan (tak dikehendaki).

  1. A.    Emosi Senang

Emosi senang umumnya didefinisikan sebagai segala sesuatu yang membuat kepuasan dalam hidup. “We define happiness as overall satisfaction with life”. Perasaan senang (cinta, gembira, puas, bahagia) adalah kondisi-kondisi yang senantiasa didambakan oleh setiap individu apa pun latar belakangnya. Hal yang mungkin berbeda adalah persepsi terhadap sesuatu yang dapat membuat orang senang. Sebagian menjadikan ukuran kesenangan itu pada harta yang melimpah, kesehatan yang prima, jabatan yang bergengsi, atau keluarga yang rukun dan sejahtera, sementara yang lain pada hal-hal di luar itu. Oleh karena itu, objek yang dapat membuat orang senang atau bahagia tidak bisa diukur sama untuk semua individu. Namun, secara umum al-Qur’ân menyatakan bahwa manusia memi­liki predisposisi senang kepada wanita (lawan jenis), anak cucu, harta yang melimpah, kendaraan mewah, dan kekayaan lainnya (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 14).

Ekspresi emosi senang dijumpai dalam beberapa ayat al-Qur’ân yang dengan jelas mengung­kapkan terjadinya perubahan-perubahan pada wajah menjadi berseri-seri yang dapat diamati oleh orang lain yang menyaksikannya. Ayat-ayat al-Qur’ân tersebut misalnya Q.S. al-Insân [76]: 11; ‘Abasa [80]: 38-39; al-Muthaffifîn [83]: 22-24; al-Insyiqâq [84]: 7-9. Q.S. ‘Abasa [80]: 38-39:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ 0 ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ

“Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria.” (Q.S. ‘Abasa [80]: 38-39)

Menurut al-Thabarî (1405 H), kata musfirah dalam ayat tersebut berasal dari asfar, yaitu ungkapan dalam bahasa Arab untuk menyebut wajah yang cantik (bersinar). Cahaya subuh juga disebut asfar ketika mulai bersinar, bahkan setiap yang bersinar dikatakan musfir. Wajah yang musfirah adalah wajah berseri-seri yang memancarkan sinar kegembiraan karena mendapatkan suatu kenikmatan.

Ungkapan emosi senang di dalam al-Qur’ân sangat beragam. Senang meraih kenikmatan dan terhindar dari kesulitan misalnya dijumpai dalam Q.S. Hûd [11]: 10; al-Rûm [30]: 36; al-Syûrâ [42]: 48; Âlu ‘Imrân [3]: 170; Yûnus [10]: 58; Yûsuf [12]: 33-34. Senang terhadap lawan jenis (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 14; al-Rûm [30]: 21; Yûsuf [12]: 30-32), senang terhadap harta (al-Fajr [89]: 20; al-‘Âdiyât [100]: 8; al-Kahf [18]: 34; al-Ra‘d [13]: 26), senang memberi atau menerima (al-Hasyr [59]: 9; al-Naml [27]: 36; al-Tawbah [9]: 58-59; al-Insân [76]: 8-9; al-Nisâ’ [4]: 4). Sementara senang terhadap hasil usaha (prestasi) dapat dilihat misalnya dalam Q.S. al-Rûm [30]: 2-4; al-An‘âm [6]: 135; Âlu ‘Imrân [3]: 188; Ghâfir [40]: 83. Ada pula bentuk kesenangan yang menyimpang dari fitrah kemanusiaan, yaitu jika seseorang senang terhadap kesulitan orang lain (Âlu ‘Imrân [3]: 120; al-Tawbah [9]: 50). Jenis yang terakhir ini tentu harus dihindari karena bertentangan dengan ajaran agama.

Kata fariha (gembira, senang) yang disebutkan dalam beberapa ayat di atas merupakan gambaran suasana hati ketika dapat merasakan kepuasan begitu men­dapat­kan apa yang diinginkan. Demikian pendapat al-Baghawî (1407 H) yang menyata­kan: “الفَرَحُ: لَذَّةٌ فِى القَلْبِ بِنَيْلِ المُشْتَهَى”. Objek yang menimbulkan emosi senang bersifat sangat personal. Nabi Yusuf sangat senang ketika doanya terkabul untuk masuk penjara sebagai usaha menghindari godaan para wanita yang tertarik padanya (Q.S. Yûsuf [12]: 33-34).

Sedangkan Q.S. al-Hasyr [59]: 9 turun dalam kasus Abu Thalhah (yang lain menyebut Tsâbit ibn Qays, atau Abû Nashr Abd al-Rahîm) yang begitu berempati kepada tamunya ‘pengungsi’ dari kaum Muhajirin. Ia sendiri kesulitan dalam hidupnya tetapi masih tetap mengutamakan tamunya meski harus memberikan makanan yang tadinya untuk anak balitanya. Walaupun ayat ini turun untuk apresiasi terhadap emosi senang yang ditunjukkan seorang Ansar kepada Muhajirin, namun kondisi itu merata pada hampir semua kaum Anshar. Faktor senang membantu tamu-tamu itu merupakan gejala umum di masyarakat Madinah. Mereka memberi apa yang dibutuhkan oleh tamu-tamunya meskipun sebenarnya mereka juga butuh, termasuk mereka yang memiliki istri lebih dari satu dengan rela diberikan kepada tamu-tamu Muhajirin.

Hal yang kontras terjadi adalah apa yang dijelaskan dalam Q.S. al-Taubah [9]: 58-59. Ayat ini turun pada kasus Ibn Dzu al-Khuway­sharah al-Tamimi (atau pada Abu al-Jawaz, atau Abu al-Jawth–ada yang menyebutnya, munafik), ia memprotes keadilan Rasulullah ketika mem­bagi sedekah dan harta rampasan perang (ghanîmah, al-fay’) karena ia tidak mendapat bagian. Orang-orang munafik ketika mendapat bagian mereka meluapkan kesenangan, tetapi ketika tidak, serta-merta mereka menggerutu dan marah. Atau, ketika mendapat banyak amat senang, tapi ketika sedikit mereka jengkel “إن أعطوا كثيرا فرحوا وإن أعطوا قليلا سخطوا”.[8]

Q.S. al-Rûm [30]: 2-4 menggambarkan kekalahan dan kemenangan dua kekuatan imperium di abad VII, Romawi Timur dan Persia (yang mendapat simpati dari kaum musyrik Mekah). Kemenangan terhadap lawan (tanding) merupakan prestasi. Sebuah prestasi, apakah diukir sendiri atau oleh orang yang mendapat simpati dan dukungan kita, membawa kepuasan tersendiri. Semakin susah prestasi itu diperoleh, semakin tinggi pula nilai kepuasannya. Menurut McClelland pada diri manusia terdapat kebutuhan untuk berprestasi yang dikenal dengan istilah n-Ach (need for achievement).

Senyampang dengan itu, al-Qur’ân melarang manusia melampiaskan emosi senangnya dengan berlebih-lebihan, cara-cara yang tak lazim, atau akibat kesombongan dan maksiat (Q.S. al-Qashash [28]: 76; Ghâfir [40]: 75-76; al-Hadîd [57]: 23). Larangan mengungkapkan emosi senang yang terdapat pada 28:76 hendaklah dipahami sebagai emosi senang yang berlebihan dan yang membawa pada kebanggaan terhadap diri sendiri sebagai­mana yang dilaku­kan oleh Qarun ibn Yushar ibn Qahits ibn Lawi. Karena ternyata harta kekayaan dan pernik-pernik duniawi dapat membangkitkan emosi senang berlebihan dan dapat men­jauhkan manusia dari Allah. Menurut al-Baydhâwî bahwa ketidaksukaan Allah kepada orang yang mengungkapkan kegembiraannya (seperti dapat dibaca pada Q.S. al-Qashash [28]: 76) adalah jika dilaku­kan secara berlebih-lebihan dan semata-mata dalam hal keduniawian yang menye­bab­kan manusia lupa pada eksistensi Tuhan sebagai sumber kesenangan itu. Apalagi jika ungkapan emosi senang itu terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan, sebagaimana dijelaskan Q.S. Ghâfir [40]: 75.[10]

  1. B.     Emosi Marah

Emosi marah adalah emosi yang paling dikenal dalam percakapan sehari-hari, bahkan sering dianggap perilaku marah identik dengan emosi. Tingkah laku yang menyertai emosi marah sangat beragam mulai dari tindakan diam atau menarik diri (withdrawal) hingga tindakan agresif yang dapat mence­derai atau mengancam nyawa orang lain. Pemicunya juga sangat beragam, dari hal-hal yang sangat sepele sampai pada pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Pada umumnya emosi marah pada manusia dikenali dengan terjadinya perubahan pada raut muka (tegang, merah padam), nada suara yang berat, anggota badan bergetar, atau sikap siap menyerang. Atau, agresivitas itu tidak menggejala karena disembunyikan dengan alasan-alasan tertentu.

Faktor penyebab keterbangkitan emosi marah ada yang bersifat eksternal dan ada pula yang bersifat internal. Faktor eksternal adalah stimuli yang datang dari luar diri kita, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam seperti cuaca, gangguan alam, atau yang lain. Sedangkan faktor internal datang dari dalam diri manusia sendiri atau sering juga disebut sebagai faktor personal. Orang yang tempramental sangat mudah tersinggung dan terpancing untuk melampias­kan emosi marahnya ketimbang dengan orang penyabar. Sikap dan tingkah laku marah dimiliki oleh semua makhluk, bahkan Allah sebagai al-Khâliq dapat marah (murka). Allah marah kepada orang yang membunuh manusia tanpa haq, musyrik, munafik, bersumpah palsu, dan sebagainya.

Gejala-gejala emosi marah yang muncul dalam sikap dan perilaku manusia yang direkam oleh al-Qur’ân dalam berbagai peristiwa, ekspresi, dan tindakan. Salah satu di antaranya, Q.S. al-A‘râf [7]: 150:

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلاَ تُشْمِتْ بِيَ الأَعْدَاءَ وَلاَ تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?’ Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: ‘Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.”

Ekspresi emosi marah dalam penuturan al-Qur’ân dijumpai dalam semua bentuk ekspresi. Pertama, ekspresi marah dengan perubahan pada raut muka dijumpai misalnya dalam Q.S. al-Nahl [16]: 58-59; al-Zukhruf [43]: 7 (ketika orang-orang jahiliah mendapatkan bayi perempuan). Kedua, ekspresi marah dengan kata-kata diungkapkan Q.S. Thaha [20]: 86; al-Qalam [68]: 48; al-Anbiyâ’ [21]: 87-88 (peristiwa Nabi Musa yang kesal kepada saudara­nya, Harun; dan peristiwa Nabi Yunus yang kesal kepada kaumnya lalu pergi menjauh dan kemudian ditelan ikan–kekesalan berganda). Ketiga, ekspresi emosi dengan tindakan dapat dibaca pada Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 119; al-A‘râf [7]: 150 (orang-orang kafir musyrik menggigit jari-jemarinya karena marah yang bercampur benci kepada kaum Muslimin; dan peristiwa Nabi Musa melempar prasasti/alwâh ketika menjumpai kaumnya menyembah al-‘ijl). Keempat, ekspresi marah dengan diam digambarkan misalnya oleh Q.S. Yûsuf [12]: 84-85; 12:77 (Nabi Ya’qub berpaling dari anak-anaknya yang bersekongkol ‘membunuh’ Yusuf; dan Yusuf menahan marah atas fitnah saudara-saudaranya kepada dirinya).

Betapa banyak peristiwa emosi marah yang selalu kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari akibat dari tidak tercapainya sesuatu yang diinginkan. Orang bisa berteriak, memaki, membentak, menendang, menempeleng, menggebrak meja, membanting gelas, menggerutu, melotot, atau tindakan lainnya hanya karena harapannya tak kesampaian. Rekaman peristiwa di dalam al-Qur’ân telah mencatat aneka macam tingkah laku manusia ketika berbagai keinginannya gagal tercapai. Ada yang memutarbalik­kan fakta untuk mencelakakan orang yang menjadi penghalang harapan-harapannya itu (Q.S. Yûsuf [12]: 25-28). Ada yang meng­ajak perang tanding untuk menampil­kan kehebat­an yang dimilikinya agar dapat disaksikan oleh khalayak (Q.S. Thaha [20]: 63-70). Ada pula yang berusaha mengusir orang yang menjadi perintang keinginan-keinginan mereka dengan deportasi ke luar negeri mereka (Q.S. al-Naml [27]: 54-56). Dan, aneka respons emosional yang muncul di saat harapan tak kesampaian: menggerutu kalau hanya mendapat sedikit bagian zakat (Q.S. al-Tawbah [9]: 58); kesal kalau dzikrullâh mendominasi percakapan (Q.S. al-Zumar [39]: 45); jengkel yang melanda orang kafir ketika tak mampu memperdayakan dan mengalahkan orang mukmin padahal jumlah personel dan teknologi perang mereka lebih unggul (Q.S. al-Ahzâb [33]: 25).

Keterbangkitan (arousal) emosi marah kadang-kadang bermula dari percakapan biasa, tawa canda yang kemudian menyerempet ke harga diri, hingga provokasi yang disengaja untuk membang­kitkan emosi marah. Harga diri (self esteem), pembelaan pada simbol identitas, dan perebutan teritori adalah hal yang paling sering memunculkan emosi marah. Fir‘aun merasa kekuasaannya dilecehkan lalu memprovokasi masyarakat untuk mengirimkan pemberaninya melawan Musa dan pengikutnya (Q.S. al-Syu‘arâ’ [26]: 53-55).

Personifikasi juga terjadi dalam menggambarkan emosi marah. (Personifikasi sering muncul karena gaya bahasa al-Qur’ân yang puitis, meskipun ia bukan buku sastra. Bertanya pada negeri “…وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ” [Q.S. Yûsuf [12]: 82], benda-benda angkasa terma­suk planet-planet patuh kepada Tuhannya “وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ” [Q.S. al-Insyiqâq [84]: 2,5], langit dan bumi tidak menangisi mereka “…فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ” [Q.S. al-Dukhân [44]: 29], adalah contoh-contoh personifikasi al-Qur’ân yang harus dipahami sesuai dengan konteksnya). Q.S. al-Mulk [67]: 6-8 dan al-Furqân [25]: 12 menggambarkan tentang kegeraman neraka ketika dimasuki para pendosa. Menurut Ibn Katsir, kemarahan neraka digam­barkan hampir-hampir memisahkan bagian demi bagian akibat amarah yang dahsyat kepada penghuninya.

  1. C.    Emosi Sedih

Dalam kenyataan hidup sehari-hari tidak selamanya manusia bergem­bira, adakalanya juga bersedih. Sedih karena gagal meraih sukses, mendapat kesulitan, ditinggal orang yang dicintai, atau sebab yang lain. Begitulah kehi­dup­an terjadi silih berganti (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 140). Tertawa atau menangis sudah merupakan bawaan (naluri, gharîzah) karunia dari Allah. Dari sejak lahir manusia sudah pandai menangis dan tersenyum. Setelah mulai menapaki kehidupan orang belajar dari lingkungannya kapan tempatnya tertawa dan kapan pula menangis. Q.S. al-Najm [53]: 43 menjelaskan:

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى

“Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”

Kesedihan memang sesuatu yang tidak diharapkan, tetapi senang atau tidak senang, pasti mampir juga dalam perjalanan hidup manusia. Rasulullah saw. sendiri pernah mengalami kesedihan bertubi-tubi, antara lain ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya dalam selang waktu relatif singkat, sehingga tahun kejadian itu dikenal dalam sejarah sebagai âm al-huzn (tahun kesedih­an, tahun 619 H). Cobaan yang dialaminya cukup berat sampai tiba saatnya men­dapat kelapangan (al-insyi­râh, enlight­en­ment, pencerahan). Kesedihan berganti dengan kebahagiaan, beban berat terlewati, dan memang sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Sungguh! (Q.S. al-Insyirâh [94]: 1-8).

Pada umumnya, yang kita kenali dalam ekspresi emosi sedih adalah tangis. Akan tetapi, tidak berarti bahwa setiap orang yang menangis pasti bersedih, karena ternyata ada tangis bahagia, tangis haru, atau bahkan ada tangis pura-pura seperti terjadi pada kisah saudara-saudara Yusuf. Ekspresi lain adalah raut wajah yang menggambarkan suasana hati ketika sedang bersedih: dingin, pucat, pandangan lesu, tanpa senyum, tidak bergairah.

Beberapa ayat al-Qur’ân menjelaskan model-model ekspresi emosi sedih yang diperankan oleh manusia. Pertama, ekspresi emosi sedih dengan cucuran air mata yang memancarkan perasaan yang dialami (Q.S. al-Tawbah [9]: 92); kedua, tangis yang dibuat-buat untuk memberi kesan kesedihan atau sandiwara (Q.S. Yûsuf [12]: 15-16); ketiga, ekspresi sedih dalam bentuk perilaku menarik diri (withdrawal, tawallâ) disertai mata yang berkaca-kaca (Q.S. Yûsuf [12]: 84-86).

Pada umumnya, kesedihan muncul ketika seseorang ditimpa kesulitan, kemalangan, atau kondisi-kondisi yang sangat tak diharapkan lainnya. Penyebab kesedihan pasti akan mampir dalam setiap kehidupan manusia, hanya tinggal bagaimana orang itu memaknai setiap peristiwa yang dialaminya, lihat Q.S. Fushshilat [41]: 49; al-Ma‘ârij [70]: 19-22; Ghâfir [40]: 18; al-Zukhruf [43]: 17; Shâd [38]: 27; Âlu ‘Imrân [3]: 191. Orang mukmin sejati yang senantiasa memelihara ketakwaannya sangat pandai memaknai setiap peristiwa yang terjadi sehingga mereka tidak mudah larut dalam kesedihan atau keputusasaan (Q.S. al-An‘âm [6]: 48; Yûnus [10]: 62-63; al-Ahqâf [46]: 13; al-Zumar [39]: 61; al-A‘râf [7]: 35; al-Baqarah [2]: 122, 277). Kalaupun ada orang mukmin bersedih, hal itu karena ia tidak mampu memaksimalkan kebaikan yang seharusnya bisa dilakukannya (Q.S. al-Tawbah [9]: 92) seperti pada Kelompok Tujuh atau Kelompok al-Bakkâ’ûn (orang-orang yang mencu­cur­kan air mata sedih karena gagal berpartisipasi dalam suatu perang jihad yang mereka rindukan).

  1. D.    Emosi Takut

Emosi takut merupakan salah satu emosi yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena berperan untuk mempertahankan diri dari berbagai masalah yang dapat mengancam kehidupan itu sendiri. Emosi takut manusia dalam penuturan al-Qur’ân mempunyai cakupan yang luas. Bukan hanya gambaran ketakutan di dunia ini seperti ketakutan pada kelaparan, kehilangan jiwa dan harta, bencana alam, melainkan juga menyangkut ketakutan pada kesengsaraan hidup di akhirat. Hal ini menjadi pembeda yang tegas antara orang beriman yang percaya pada kehidupan akhirat dengan yang tidak. Ketakutan pada orang beriman juga menjadi ajang promosi baginya untuk mencapai suatu predikat tertentu dalam pandangan Allah. Firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 155 (juga Q.S. al-Nahl [16]: 112)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Manfaat emosi takut menurut perspektif al-Qur’ân tidak hanya untuk menjaga manusia dari berbagai bahaya yang mengancam kehidupannya di dunia ini, tetapi juga mendorong setiap mukmin untuk memelihara dirinya dari azab Allah di akhirat. Kehidupan akhirat meskipun time response-nya lama, tetapi pasti sebagai­mana pastinya kematian itu sendiri. Sebenarnya, pada diri manusia terdapat mekanisme pertahanan diri sehing­ga segala sesuatu yang dapat mengancam dirinya akan dihindarkan atau dia yang menghindar. Menghindar dapat berupa kesengajaan atau tindakan refleks yang bersifat spontanitas terhadap ancaman yang bersifat sekonyong-konyong. Manusia akan selalu melakukan adaptation (adap­tasi, penye­suai­an diri dengan lingkungan) atau adjustment (penyesuaian ling­kungan menu­rut yang dike­hendaki) terutama terhadap hal-hal yang berpotensi mengancam jiwa.

Perubahan tingkah laku karena emosi takut umumnya diekspresikan dalam bentuk perubahan pada raut muka menjadi pucat pasih, berteriak histeris (scream), loncat dan berlari, merunduk, menutup telinga, menghindar, atau tindakan lain. Perubahan faali dapat terjadi berupa denyut nadi meningkat, jantung berdebar-debar, pandangan mata kabur, keluar keringat dingin, persen­dian terasa lemas. Ekspresi berupa tingkah laku antara lain seperti menutup telinga ketika mendengar petir dan kilat yang menyambar-nyambar (Q.S. al-Baqarah [2]: 19), mengungsi karena takut perang (Q.S. al-Baqarah [2]: 243). Ketakutan yang muncul pada hubungan intra­personal biasanya terjadi ketika mengingat peristiwa masa lampau yang tersimpan di dalam memori (Q.S. al-Syu‘arâ’ [26]: 14; al-Qashash [28]: 18; Âlu ‘Imrân [3]: 151; al-Rûm [30]: 28). Sedangkan emosi takut yang muncul pada hubungan dengan orang lain (interpersonal) baik perorangan maupun kelompok (Q.S. Thaha [20]: 67-68; al-Syu‘arâ’ [26]: 21; Shâd [38]: 22; Thaha [20]: 40-46, 77; al-Nisâ’ [4]: 77,101; al-Anfâl [8]: 26; al-Mâ’idah [5]: 21-22; Yûnus [10]: 83).

Dari ayat-ayat itu tampak jelas adanya kesan ketakutan terhadap manusia, dalam hal ini penguasa yang lalim, kelompok tirani yang perkasa (qawm jabbârîn), dan serdadu-serdadu yang menjadi mesin perang. Akan tetapi, kemudian Allah memberi peneguhan kepada orang-orang beriman untuk berani melawan kebatilan siapapun pelakunya, dan menegakkan yang haq sesudahnya. Perbedaan-perbedaan yang ada pada manusia menyangkut ideologi, agama, etnis, dan perbedaan lainnya dapat menjadi potensi konflik antar­manusia yang menimbulkan emosi takut, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, al-Qur’ân mereduksi potensi konflik itu dengan mengajak semua pihak yang memiliki perbedaan tadi untuk saling mengenal (Q.S. al-Hujurât [49]: 13), dan kemudian saling menghormati. Kalaupun terjadi konflik antarorang perorang segera didamaikan sebelum menjadi perang besar antarkelompok (Q.S. al-Hujurât [49]: 9-10).

Pencegahan dini sebagaimana dimaksud oleh al-Qur’ân itu diperlukan karena ketika massa terlibat pada suatu masalah terkadang sulit dikendalikan. Jiwa individu ketika berada di tengah-tengah massa lebur menjadi jiwa massa. Gejala seperti ini dalam psikologi dikenal dengan istilah deindividuation. Dan ternyata berdasarkan berbagai eksperimen, deindividuation ini potensial menjadi pemicu agresi. Dalam bahasa Feldman (1985:316), “deindividuation is also a potential cause of aggression, and this fact has been shown in a number of experiments.”

Emosi takut dalam kaitannya dengan hubungan metapersonal digambarkan al-Qur’ân dalam dua term, yaitu: al-khawf (الخوف) dan al-khasyyah (الخشية), selain term taqwâ yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan takut (yang sesungguhnya tidak pas). Sebagian ulama tafsir membedakan kedua term itu (al-khawf dan al-khasyyah), sementara yang lainnya menganggapnya sino­nim saja. Jika dicermati ayat-ayat yang menggunakan term al-khawf (seperti Q.S. Ibrâhîm [14]: 14; Q.S. al-Sajdah [32]: 16) tampaknya lebih umum dan intensitas ketakutan itu lebih ringan jika dibandingkan dengan pada term al-khasyyah (seperti Q.S. Yâsin [36]: 11; al-Mulk [67]: 12). Takut kepada bencana alam maupun bencana hari kiamat juga selalu menggunakan term al-khawf (seperti Q.S. al-An‘âm [6]: 15; al-A‘râf [7]: 59; Yûnus [10]: 15; Hûd [11]: 3, 26, 84, 103; al-Isrâ’ [17]: 57; al-Nûr [24]: 37, 50).

  1. E.     Emosi Benci

Mekanisme pertahanan hidup manusia melahirkan berbagai tingkah laku dan berbagai jenis emosi. Emosi benci, seperti halnya emosi takut, dapat mengan­tar manusia untuk melestarikan hidupnya. Hanya saja, emosi benci itu kadang-kadang tidak tepat sasaran jika terarah pada hal-hal yang seharusnya tidak dibenci. Bahkan, menurut al-Qur’ân ada hal-hal yang sering dibenci oleh manusia, tetapi ternyata sangat bermanfaat baginya. Atau sebaliknya, disenangi tetapi mem­bawa efek negatif baginya (Q.S. al-Baqarah [2]: 216; al-Nisâ’ [4]: 19).

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

 

Emosi kebencian dan ketidaksenangan manusia, sebagaimana tergam­bar dalam ayat-ayat al-Qur’ân, umumnya mengarah pada kebencian terhadap kebe­naran yang datang dari Allah SWT. berupa wahyu itu sendiri, keharusan untuk taat, berjihad, berinfak, dan sebagainya. Kalau dibandingkan dengan jumlah ayat yang menerangkan tentang emosi senang di dalam al-Qur’ân, maka emosi benci jauh lebih kecil jumlahnya. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan al-Qur’ân sebenarnya lebih cenderung pada pendekatan reward (ganjaran, targhîb) daripada punishment (hukuman, ancaman, tarhîb).

Keberpihakan Allah terhadap kebaikan merupakan salah satu cara memotivasi manusia untuk selalu dalam kebaikan dan membenci hal-hal yang buruk dan merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Dalam banyak ayat, Allah SWT. sering kali menutup sebuah ayat dengan menyatakan ketidaksenangannya pada keburukan itu. Allah tidak senang pada: kerusakan dan orang-orang yang berbuat kerusakan (Q.S. al-Baqarah [2]: 205; al-Maidah [5]: 64; al-Qashash [28]: 77), keterlaluan atau melampaui batas (Q.S. al-Baqarah [2]: 190; al-Mâ’idah [5]: 87; al-A‘râf [7]: 31), berfoya-foya, mubazir, isrâf (Q.S. al-An‘âm [6]: 141; al-A‘râf [7]: 31), suka berkhianat (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 107; al-Anfâl [8]: 58; al-Hajj [22]: 38), sombong dan membangga-banggakan diri (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 36; al-Nahl [16]: 23; Luqmân [31]: 18; al-Hadîd [57]: 23), lupa daratan karena kelewat gembira (al-Qashash [28]: 76), mengingkari kebenaran, kafir (Q.S. al-Baqarah [2]: 276; Âlu ‘Imrân [3]: 32; al-Rûm [30]: 45), berbuat aniaya, zalim (Âlu ‘Imrân [3]: 57, 140; al-Syûrâ [42]: 40), suka berkata-kata kasar (al-Nisâ’ [4]: 148).

Ekspresi emosi benci yang digambarkan oleh al-Qur’ân adakalanya bersi­fat spontanitas dan adakalanya pula tidak spontanitas. Ekspresi yang tidak spon­tani­tas itu sejatinya hanya tertunda karena mungkin ada faktor takut atau hal lain jika diekspresikan pada saat itu juga. Emosi benci yang spontan dan yang tidak spontan masing-masing dapat dilihat dalam Q.S. al-Isrâ’ [17]: 46 dan Âlu ‘Imrân [3]: 119-120.

Kebenaran dari Allah digambarkan oleh al-Qur’ân dalam banyak ayat sering kali mendapat penolakan dengan ekspresi kebencian dan ketidaksenangan dari seba­gian manusia. Selalu ada upaya sistematis dan terus-menerus untuk meng­hancurkan kebenaran dari Allah itu. Dalam ungkapan al-Qur’ân misalnya disebutkan ‘mereka ingin memadamkan cahaya dari Allah’, dan sebagainya (Q.S. al-Tawbah [9]: 32-33; al-Shaff [61]: 8-9; Yûnus [10]: 82; al-Anfâl [8]: 8; al-Mu’minûn [23]: 70; al-Zukhruf [43]: 78; Muhammad [47]: 9, 26, 28; al-Zumar [39]: 45). Demikian juga ketidaksenangan pada perilaku kebaikan misalnya pada infak (Q.S. al-Tawbah [9]: 53-54), pada jihad (Q.S. al-Anfâl [8]: 5; al-Baqarah [2]: 216; al-Tawbah [9]: 81-82), ketaatan beribadah (Q.S. al-Ra‘d [13]: 15), keikhlasan dalam mengabdi (Q.S. Ghâfir [40]: 14).

Emosi benci terhadap perilaku seseorang kadang-kadang sulit dipisahkan dengan pelakunya. Ketika kita benci pada perilaku menggunjing (ghîbah), maka kita pun tak senang pada orang yang suka ghîbah itu. Atau sebaliknya, sering kali orang benci pada seseorang membawa pula ketidaksenangan pada segala yang berhubungan dengan orang itu. Tertawanya orang yang tak kita senangi terde­ngar pula tak enak di telinga. Ketidak­senangan orang kafir pada ajaran Allah berdampak kebencian kepada pembawa risalah (rasul). Hal ini yang dialami oleh para rasul sebagaimana banyak disinyalir oleh al-Qur’ân, seperti dijelaskan Q.S. al-A‘râf [7]: 88 dalam kasus Nabi Syu‘aib.

  1. F.     Emosi Heran dan Kaget

Emosi heran dan kaget berada pada garis kontinum yang sama. Pada peristiwa heran terdapat sangkaan di luar yang dibayangkan terjadi, merasa ganjil ketika mengindera sesuatu, atau di luar kebiasaan. Sedangkan pada peristiwa kaget emosi terjadi dengan sangat tiba-tiba, terperanjat atau terkejut karena heran yang tiba-tiba. Intensitas emosi pada peristiwa kaget lebih dalam dibandingkan dengan emosi pada peristiwa heran. Akibatnya, perubahan fisiologis pada emosi kaget juga lebih tinggi, seperti denyut jantung yang lebih cepat, pernafasan yang berat, dan sebagainya. Emosi heran dan kaget diperlukan dalam konstelasi kehidupan manusia, karena hal itu memberi peringatan dan pewaspadaan terhadap sesuatu yang dapat mengancam kehidupan. Sesuatu yang tak lazim sekonyong-konyong muncul atau dijumpai di sekitar kita perlu diwaspadai kalau-kalau hal itu berbahaya bagi kehi­dupan.

Di dalam al-Qur’ân, ekspresi heran dan kaget muncul dalam sejumlah ayat sebagai fenomena yang sering terjadi dalam kehidupan manusia ketika berhadapan dengan objek di lingkungannya, baik lingkungan alam maupun lingkungan personal (sosial). Bahasa yang sering digunakan al-Qur’ân adalah takjub yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Seperti halnya kurva normal, kehidupan ini selalu disertai oleh keganjilan, sebagian ganjil negatif dan sebagian lagi ganjil positif. Orang yang buruk rupa dan memiliki multihandicapped dapat dikategorikan sebagai ganjil negatif, sementara yang sangat cantik atau ganteng dan nyaris tanpa cacat sebagai ganjil positif. Anak yang terbelakang mental (idiot) biasanya dianggap sebagai anak luar biasa (ke bawah), sementara yang jenius pun disebut anak luar biasa (ke atas).

Emosi kaget (heran, takjub) yang dialami oleh manusia pada umumnya diekspresi­kan dengan berteriak spontan, terperanjat, mata membelalak, merinding, merunduk, latah, meneteskan air mata, menertawai, diam seribu bahasa, termangu, terpesona, dan sebagainya. Ekspresi heran dan kaget ini juga telah digambarkan di dalam al-Qur’ân dengan sangat spektakuler, misalnya Q.S. Yûsuf [12]: 31:

فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَءَاتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلاَّ مَلَكٌ كَرِيمٌ

“Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): ‘Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.’ Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”

Di alam ini terkandung banyak hal atau peristiwa misteri, tidak atau belum diketahui secara pasti mengapa hal itu terjadi. Dengan curiosity (keingintahuan) yang ada pada manusia sedikit demi sedikit misteri itu tersibak melalui penga­laman-pengalaman atau penelitian-penelitian. Di kalangan sufi dikenal istilah ter­singkapnya kasysyâf (tirai selubung) yang menyelimuti hakikat sesuatu ketika pengalaman dan latihan (riyâdhah, exercise) mencapai maqâm (tingkat) tertentu.

Apabila diklasifikasi berbagai peristiwa dalam kehidupan ini, maka dapat dikatakan ada tiga pewilayahan: Pertama, wilayah terang (putih), yaitu hal atau peristiwa yang telah dapat diterangkan secara jelas tentangnya, tanpa ragu. Kedua, wilayah gelap (hitam), yaitu yang masih misterius bagi manusia, belum dapat dijelaskan. Dan ketiga, wilayah bayang-bayang (abu-abu), sesuatu yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan dengan memuaskan meskipun sebagian daripadanya telah mulai tersibak. Contoh, bagi orang yang belum pernah melihat besi berani (magnet, besi yang mengandung muatan listrik) sebelum­nya akan terheran-heran ketika menyaksikan magnet itu dapat menggaet potongan besi lain di dekatnya. Baginya, magnet itu masih berada dalam wilayah hitam. Sementara para ahli fisika dan yang telah mendapat penerangan tentang teori dan cara kerja magnet itu berarti telah menjadikannya wilayah terang baginya.

Ayat-ayat yang menerangkan tentang adanya peristiwa yang mengherankan (menakjubkan) terjadi di luar kebiasaan antara lain: emosi heran berkenaan dengan malaikat (Q.S. Hûd [11]: 70), berkenaan dengan jin (Q.S. al-Jinn [72]: 1), berkenaan dengan manusia (Q.S. Shâd [38]: 22), berkenaan dengan hewan (Q.S. al-Kahf [18]: 63), berkenaan dengan tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Wâqi‘ah [56]: 63-65, lihat lebih lanjut 68:17-33), dan emosi heran berkenaan dengan sejarah masa lalu (misalnya Q.S. al-Kahf [18]: 9; al-Baqarah [2]: 258).

Kemampuan dan kehebatan luar biasa yang dimiliki seseorang dapat mengun­dang keheranan (takjub, ta‘ajjub) dari orang lain. Kehebatan itu, sebagai­mana dapat dibaca dari ayat-ayat al-Qur’ân, misalnya para pembawa risalah Allah yang memiliki kemampuan lebih dibanding dengan manusia pada umumnya (komunikasi melalui wahyu dengan Allah, mukjizat, integritas pribadi yang prima). Kelebihan lain yang juga dapat membuat orang heran adalah bentuk fisik, harta kekayaan, dan anak keturunan, jika hal itu tidak lazim dari biasanya menurut ukuran normal. Q.S. Qâf [50]: 2 merujuk pada ekspresi keheranan yang ditunjukkan orang yang tak percaya atau ragu tentang kemungkinan seorang manusia menjadi pembawa risalah dari Allah. Menurut al-Baydhâwî, ekspresi keheranan itu terjadi karena ketakpercayaan pada manusia biasa dari jenis mereka dapat menerima wahyu. Yang mereka harapkan adalah dari malaikat sebagaimana harapan orang-orang tua mereka sebelumnya. Ekspresi heran terhadap kemampuan diri sendiri tergambar dalam Q.S. Hûd [11]: 72-73 ketika istri Nabi Ibrahim yang sudah menopause diberitakan akan melahirkan seorang anak. Kata ‘ajûz dalam bahasa Arab diartikan sebagai nenek yang telah renta. Dalam kitab Tafsîr al-Baydhâwî dijelaskan usia pasang­an itu masing-masing sudah mencapai 90 atau 99 tahun (istri) dan 100 atau 120 tahun (iii,246).

Pengendalian Emosi

Kehidupan manusia selalu mengalami ritme yang berbeda-beda, ada saatnya mendapatkan kenikmatan lalu merasa bahagia, tetapi di saat yang lain mengalami musibah lalu bersedih. Aneka ekspresi yang muncul dalam menang­gapi berbagai situasi yang dialami itu sesungguhnya memperkaya kehidupan itu sendiri. Tak terbayangkan dalam pikiran seandainya pada semua yang dialami manusia muncul hanya satu jenis ekspresi emosi, misalnya bahagia terus-menerus atau sedih sepanjang masa, tentu tak nikmat. Morgan et al. (1986:310), memberi komentar menarik tentang hal ini sebagai berikut:

Life would be dreary without such feelings. They add color and spice to living; they are the sauce which adds pleasure and excitement to our lives. We anticipate our parties and dates with pleasure; we remember with a warm glow the satisfaction we got from getting a good grade; and we even recall with amusement the bitter disappointments of childhood. On the other hand, when our emotions are too intense and too easily aroused, they can easily get us into trouble. They can warp our judgment, turn friends into enemies, and make us as miserable as if we were sick with fever.

(Hidup akan menjadi kering tanpa adanya berbagai perasaan atau emosi. Perasaan atau emosi itu menambah warna dan bumbu bagi kehidupan; ia merupakan ‘saus’ yang menambah nikmatnya kebahagiaan dan kegembiraan dalam kehidupan. Kita menanti datangnya pesta dan kencan dengan senang hati; kita mengenang dengan bangga pada kepuasan yang kita rasakan saat mendapatkan nilai yang bagus; dan kita bahkan mengingat dengan penuh geli saat-saat mengecewakan dari masa kecil kita. Di sisi lain, ketika emosi kita terlalu berlebih dan terlalu mudah terpancing, ia dapat dengan mudah membawa kita ke dalam masalah. Emosi dapat membengkokkan penilaian kita, mengubah teman jadi lawan, dan menjadikan kita sengsara ketika kita terkena sakit demam).

Benar, emosi memang menjadi bumbu kehidupan, tetapi ketika emosi memuncak tak terkendali dan atau berlangsung dalam waktu lama, maka kemungkinan timbul masalah yang runyam dalam kehidupan fisik maupun psikis. Emosi yang sangat dalam dapat menyebabkan terganggunya mekanisme faali, sistem kimiawi tubuh, dan memunculkan ketegangan-ketegangan yang merusak tatanan equilibrium (homeostatis) yang senantiasa menjaga keseimbangan dalam diri manusia. Al-Qur’ân mengidentifikasi berbagai kemungkinan penyebab emosi yang dapat merusak tatanan mekanisme fisik dan psikis itu, misalnya: ketakutan yang amat dahsyat (fobia), kelaparan, kehilangan harta dan anggota keluarga secara tiba-tiba (Q.S. al-Baqarah [2]: 155), terlampau gembira (euforia) karena memperoleh harta melimpah (Q.S. al-Qashash [28]:76), berputus ada dari rahmat Allah (Q.S. al-Zumar [39]: 53, 12: 87), dan sebagainya.

Ada beberapa tindakan pencegahan dan pengendalian terhadap akibat buruk dari emosi berlebihan, antara lain:

  1. Tetap konsisten (istiqâmah) dalam kebenaran (al-haqq). Permohonan yang selalu kita sampaikan kepada Allah adalah tetap berada pada shirâth al-mustaqîm (Q.S. al-Fâtihah [1]: 6), tidak mengikuti langkah-langkah setan dan orang-orang yang telah disesatkannya, karena hal itu selalu membawa kepada kemungkaran.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Lihat pula Q.S. al-Baqarah [2]: 168, 208; al-An‘âm [6]: 142)

Satu hal paling sering membuat manusia waswas, guncang, tidak dalam kondisi tenang, yaitu ketika orang itu tidak konsisten dalam menjalani kebenaran, tetapi membiarkan dirinya melanggar aturan (hukum) mengikuti langkah-langkah setan. Semakin berat akibat hukum yang ditimbulkan suatu perbuatan semakin berat pula tingkat ketidaktenangannya. Pantas apabila Rasulullah saw. memberi indikasi perbuatan dosa dengan adanya ketidaktenangan (waswas) dalam hati dan takut diketahui orang lain:

البر حسن الخلق و الإثم ماحاك فى صدرك وكرهت أن يطلع عليه الناس

“Kebaikan itu adalah kesempurnaan akhlak, sedangkan dosa adalah apa yang membuat hatimu waswas (bergejolak) dan kamu tak senang jika orang lain mengetahuinya.” (H.R. Muslim).

 

Konsistensi dalam menjalankan kebenaran dari Allah baik dalam sikap maupun perbuatan akan mengeliminasi kekhawatiran dan kesedihan dalam hidup, sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah dalam Q.S. al-Ahqâf [46]: 13 (lihat juga Fushshilat [41]:  30).

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”

 

  1. Berpikir positif dan bersikap realistis dalam menerima apa pun yang datang dari Allah sebagai bagian dari perjalanan hidup. Allah menguji manusia dengan berbagai ujian (balâ’) untuk mengetahui siapa yang mampu bersabar dan siapa yang tidak, sebagaimana dipahami dari Q.S. al-Baqarah [2]: 155-156; Muhammad [47]: 31, bahkan kehidupan dan kematian pun merupakan cobaan (Q.S. al-Mulk [67]: 2). Berpikir positif dan bersikap realistis terhadap kenyataan hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, ditandai oleh mekanisme syukur-sabar. Banyak di antara manusia yang tidak mampu mengontrol dirinya ketika menghadapi kenyataan hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan (Q.S. al-Ma‘ârij [70]: 20-21; Yûnus [10]: 12; al-Isrâ’ [17]: 83; Fushshilat/41:49-51). Dalam Q.S. al-Ma‘ârij tersebut telah pula dijelaskan siapa yang mampu mengendalikan (mengontrol) diri, antara lain karena telah terlatih dalam menjalankan pengabdian yang menghasilkan sikap dan perilaku syukur dan sabar. Orang yang bersikap dan berperilaku syukur jika mendapatkan karunia tidak serta-merta lupa daratan, tetapi ia memaknai sebagai karunia dari Allah yang juga menjadi ujian baginya. Q.S. al-Naml [27]: 40 mengisyaratkan hal ini.

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Sementara apabila mendapat musibah ia bersikap dan berperilaku sabar dan memaknainya bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya (Q.S. al-Baqarah [2]: 155-157). Sabar harus dalam kesempatan pertama (al-shadmah al-ûlâ, benturan pertama).

  1. Mengatasi masalah agar tidak berkembang menjadi lebih buruk. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi ketegangan emosional misalnya menarik napas panjang, berteriak, katarsis. Agama mengajarkan untuk pergi berwudhu, dzikrullâh, relaksasi, dan sebagainya. Dua terakhir paling mudah dilakukan:

 

  1. a.      Dzikrullâh

Mengingat Allah (dzikrullâh) dalam kondisi emosi memuncak (arousal) termasuk dalam kategori pengalihan emosi (replacement) kepada objek lain yang memungkinkan meredam efek negatifnya. Meskipun model replacement ini banyak ragamnya, dzikrullâh termasuk yang paling mudah dilakukan dan dalam banyak hal sangat efektif, terutama mereka yang sudah terlatih untuk itu. Berkenaan dengan hal ini, Allah menjelaskan di dalam Q.S. al-Ra‘d [13]: 28 sebagai berikut:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

 

  1. Relaksasi

Pada saat emosi memuncak sistem kimiawi tubuh ikut berubah dan dapat menimbulkan ketegangan-ketegangan fisik dan psikis. Untuk mereduksi pengaruh-pengaruh buruk itu perlu segera dikembalikan ke posisi equilibrium normal dengan cara relaksasi. Rasulullah saw. memberi solusi ketika seseorang marah (mewakili emosi negatif) agar segera mengubah posisi ketika itu.

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ [20]

“Jika seseorang di antara kamu marah dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk mudah-mudahan marahnya hilang. Kalau belum reda juga, maka sebaiknya ia berbaring).

 

Kesimpulan

Emosi manusia di dalam al-Qur’ân tersebar dalam berbagai surah dan ayat mengikuti peristiwa-peristiwa fenomenal yang dihadapi manusia dalam berbagai persoalan kehidupan. Ungkapan al-Qur’ân tentang emosi itu digambarkan dalam bentuk ekspresi, perubahan fisiologis, tindakan dan tendensi tindak­an, sampai pada berbagai model pengendalian emosi, baik dalam bentuk katarsis, pengalihan (replacement), relaksasi, dan selainnya. Ekspresi emosi yang paling sering dikemukakan oleh al-Qur’ân adalah ekspresi wajah, persis dengan apa yang ditemukan dalam penelitian-penelitian psikologi bahwa wajah merupakan cerminan jiwa manusia. Psikologi menemukan bahwa ekspresi wajah ketika terjadi emosi pada manusia bersifat universal dan lintas kultural, dikenali oleh berbagai etnis di dunia dengan pola-pola yang sama ketika mereka senang, marah, benci, heran, takut, atau sedang sedih. Dari ekspresi itulah manusia dapat memahami emosi yang sedang dialami orang lain sehingga ia dapat mengambil suatu sikap atau tindakan yang sesuai dan diperlu­kan dalam kaitannya dengan hubungan interpersonal.

Emosi senang dalam al-Qur’ân, seperti halnya dalam psikologi, dikatego­rikan sebagai emosi positif karena didambakan oleh manusia terjadi pada dirinya. Al-Qur’ân berbicara tentang emosi senang ini lebih banyak dan lebih variatif dibandingkan dengan emosi-emosi lain. Al-Qur’ân menggunakan misalnya term al-hubb, al-surûr, al-na‘mâ’, al-ridhâ, al-tabsyîr, al-farh, untuk merujuk pada emosi senang. Bahkan, penggambaran emosi senang itu tidak terbatas pada kegiatan atau peristiwa di dunia, tetapi juga gambaran emosi senang di kehidupan yang eternal di akhirat. Hal ini menunjukkan bahwa jenis emosi ini memang menjadi dambaan manusia.

Ekspresi emosi marah dalam al-Qur’ân digambarkan sangat terinci, dari perubahan raut muka, dalam bentuk verbal, tindakan-tindakan agresif, hingga marah yang ditekan (represif) sebagaimana terjadi pada kasus Nabi Yusuf yang difitnah pernah mencuri seperti yang dilakukan saudaranya, Bunyamin, yang ‘mencuri’ alat timbangan milik negara saat itu. Deskripsi yang demikian terinci itu boleh jadi merupakan bentuk pengenalan yang lengkap agar manusia dapat memahami ciri-cirinya, mereduksi ketika muncul keterbangkitan (arousal), atau berusaha untuk meng­hindarinya sama sekali dan berlapang dada terhadap sumber-sumber pemicu emosi marah melalui mekanisme pemberian maaf.

Dalam hal emosi benci, al-Qur’ân lebih banyak mengemukakan perilaku manusia yang sering kali membenci kebenaran, kebaikan, dan personal. Suatu hal yang mena­rik bahwa al-Qur’ân memberi warning kepada manusia bahwa adakalanya kita membenci sesuatu tetapi ternyata mem­bawa kebaikan (manfaat) bagi kehidupan, ataupun sebaliknya. Sedangkan emosi heran, takjub, kaget, merupakan sebuah garis konti­num yang dialami dalam berbagai peristiwa tertentu berdasarkan pada intensitas, meskipun frekuensi kemunculannya dalam ayat-ayat al-Qur’ân tidak sesering dibandingkan dengan emosi-emosi yang lain.

Adapun emosi takut manusia lebih banyak dijelaskan berkaitan dengan bencana, ketakutan pada hubungan-hubungan: intrapersonal, interpersonal, dan meta­per­sonal. Sedangkan emosi sedih umumnya dalam bentuk imbauan untuk tidak gampang bersedih. Ekspresi emosi sedih dalam beberapa ayat digambarkan dengan tangis atau linangan air mata (tafîdhu min al-dam‘, ibyadhdhat ‘aynâh). Al-Qur’ân selalu menggandengkan emosi cemas/khawatir (anxiety, al-khawf) dengan emosi sedih (sadness, al-huzn) dan mengulangnya hingga tiga belas kali. Dalam psikologi kedua term ini dimaknai hampir sama kecuali time case-nya berbeda. Kecemasan terjadi menjelang suatu peristiwa yang tak diinginkan, dan kesedihan terjadi sesudahnya.

Untuk mereduksi atau mengeliminasi efek-efek negatif dari ketegangan-ketegangan yang mungkin muncul pada keterbangkitan emosi diperlukan berbagai model yang dapat digunakan sebagai pengendali emosi. Wallâhu a‘lam.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s