Purnama Mendung

Aku bertahan untuk menelan semua hinaan dan celaan mereka. Namun rasanya semua itu terlalu memenuhi perut dan mulutku hingga membuatku ingin memuntahkan semuanya. Ya, semuanya. Aku tetap berjalan lurus melewati kerumunan mereka yang mengucilkanku.

“Tidak menutup kemungkinan bagi wanita berjilbab untuk menjadi seorang pelacur!” bisik mereka keras hingga membuatku mendengarnya.

“Ya, benar kata pepatah bahwa darah itu lebih kental daripada air”. Sebagai seorang mahasiswa, mereka terlalu picik dengan mengucapkannya seperti itu.

Ya, aku memang tidak dapat menyangkanya. Sekali lagi aku mencoba untuk tetap mengacuhkan mereka dan menelan semuanya. Ingin rasanya aku menangis, namun akan lebih menyedihkan jika aku menangisinya. Aku menggertakkan gigiku sekuat mungkin dan menahan semuanya.

***

Wanita cantik itu duduk disofa dengan memandangi beberapa katalog ditangannya tanpa mempedulikan salamku padanya. Ibuku adalah wanita yang cantik bahkan diusianya yang sudah kepala empat. Rumah peninggalan ayahku ini cukup besar untuk kami berdua tinggali, namun terlalu sesak bagi kami berdua untuk saling berdiri. Aku menaiki tangga setelah mencium tangannya dan masuk ke kamarku.

Ibu membuka pintu kamarku setelah aku menutupnya dan menyodorkan amplop cokelat tebal yang berisi sejumlah uang.

“Ambillah, kau membutuhkannya untuk saat ini.”

“Aku masih punya tabungan, dan besok aku akan mulai bekerja disebuah restaurant. Aku juga mendapat beasiswa, jadi ibu tak perlu khawatir mengenai kuliahku.”

“Aku harap kau tak menganggapku sebagai orang asing.” Ujarnya dan berlalu pergi dengan membanting daun pintu. Sesingkat dan sebatas irulah percakapan kami. Bahkan keheningan tanpa sepatah kata pun menjadi kebiasaan yang kami terima masing-masing. Sikap dingin kami satu sama lain tak membuat kami saling terganggu.

Bagiku ibu adalah wanita malang. Semenjak ayah meninggal dan bangkrut, ia adalah wanita yang hancur. Ayah meninggalkan kami dengan berbagai hutangnya. Dengan bekerja sebagai wanita penghibur, ibu menghidupi dirinya dan melunasi hutang-hutang yang ayah tinggalkan. Ia pun tetap mempertahankan rumah ini dari sitaan bank untuk mengenang cintanya pada ayah. Sudah hampir 3 tahun ibu hidup dengan uang haramnya itu, sedanagkan aku hidup dan kuliah dengan uang yang paman berikan. Dan kini adik satu-satunya dari ayahku itu telah meninggal 1 bulan yang lalu. Aku tak pernah menerima uang dari ibuku setelah mengetahui mengenai pekerjaan yang dilakoninya itu bahkan hingga sekarang. Entah berapa kali aku mencoba untuk meyakinkan ibu agar meninggalkan pekerjaannya itu, namun ucapanku hanya sebatas angin yang melewati daun telinganya saja.

***

Hari pertamaku bekerja pun tiba. Sahabatku Rene menjemputku dengan motornya. Rene adalah sahabatku semenjak SMA yang tetap bertahan denganku hingga saat ini. Ia pun tahu bagaimana keadaanku dan keluargaku, namun baginya aku tetap sahabatnya dan tak pernah mempermasalahkan mengenai ibuku seperti yang lain. Kami pun kuliah dan bekerja di tempat yang sama.

Mereka yang berada di restaurant tempatku bekerja tidak mengetahui bahwa aku adalah anak dari seorang wanita penghibur. Dan aku tetap membiarkan mereka untuk bertahan dengan asumsinya itu. Jika tidak, aku tidak akan bisa bekerja ditempat ini lagi.

“Wah… kau benar-benar terlihat semakin cantik dengan seragam itu.” Ujar Rene kepadaku.

“Sepertinya kau benar-benar berniat untuk mengejekku.” Sahutku.

“Hahaha senang rasanya mengejekmu seperti ini.” Ia pun tertawa. “Retha, tadi manajer bilang pemilik restaurant ini akan datang. Dan aku dengar dari mereka bahwa pemilik restaurant ini adalah pengusaha muda dan tampan.”

“Benarkah?” tanyaku sedikit mengejek.

“Mereka juga mengatakan bahwa pemilik restaurant ini belum menikah.”

“Oh ya?”

“Ya, dia bahkan belum punya pacar.”

“Lalu?”

“Kau tahu aku sudah punya pacar.”

“Dan?”

“Kau tahu maksudku.”

“Dan kau tahu bahwa kita tidak sama.” Ujarku mengakhiri candaan kami di ruang ganti karyawan.

Ini adalah hari pertamaku bekerja seumur hidupku. Aku pun mencoba bekerja sebaik mungkin sebagai pelayan baru disini agar tak didepak. Restaurant ini cukup ramai hingga membuat kakiku sedikit terasa pegal karena harus berdiri dan berjalan kesana kemari diantara meja kursi yang sesak dengan pengunjung. Didepan pintu aku melihat sosok yang entah sepertinya kukenal, namun aku mengabaikannya dan melanjutkan pekerjaanku.

“Retha!” Seseorang memanggilku dari belakang.

“Kak Ihsan?” Sapaku mengenali wajah yang kulihat dipintu masuk tadi. “Apa kabar?” tanyaku kemudian.

“Alhamdulillah masih baik. Kamu sendiri?” Tanyanya kepadaku.

“Baik. Kakak sama siapa disini?”

“Sendiri. Aku adalah pemilik restaurant ini.”

“Benarkah?” tanyaku kaget.

“Ya, aku melihat profilmu di data karyawan baru dan berkunjung kesini untuk menyapamu.” Ujarnya sambil tersenyum padaku.

“Benarkah?” tanyaku sekali lagi terpesona.

“Ya, lanjutkan dulu kerjamu dan kita bicara lagi nanti usai bekerja.”

“Iya.” Kak Ihsan adalah teman dari kakak sepupuku. Aku bertemu dengannya dirumah paman untuk pertama kalinya. Cukup sering aku melihatnnya bersama kakak, namun sudah hampir dua tahun aku tak melihatnya lagi.

Restaurant ini dibuka pukul 08.00 pagi dan tutup pukul 15.00 sore. Jadwal kuliahku dimulai pukul 17.00, jadi pekerjaan ini sama sekali tidak mengusik jadwal kuliahku. Sebelum pulang bekerja, aku, Rene dan kak Ihsan pun mengobrol sebentar sebelum terdesak oleh jam kuliahku.

***

Setiap malam terasa sama bagiku selama tiga tahun terakhir, dirumah ini. Sendiri. Ibu selalu meninggalkanku sendirian disetiap malamnya bahkan hingga saat ini. Namun entah mengapa rumah ini terasa semakin sesak untuk kuhuni seorang diri. Aku merasa merasa merindukannya disetiap malam tanpanya.

Ibu adalah wanita yang lembut dan anggun bahkan setelah ayah meninggal. Namun keanggunan itu hanya bertahan tiga bulan setelah kematian ayah. Ibu mulai frustasi dengan pria-pria penagih hutang yang datang berkunjung, tagihan listrik yang melambung untuk rumah besar ini, dan hidup kami. Ia mulai menyerah.

Empat bulan berlalu sejak hari pertamaku bekerja, dan aku telah terbiasa dengan letihnya. Aku menaiki tangga dan mengenang masa-masa bahagia keluarga kami. Aku bahkan mengingat saat terakir ibu tersenyum bahagia. Aku membaringkan diri diatas tempat tidur, dan semuanya mulai terlihat gelap.

Aku terbangun mendengar suara mobil yang datang ditengah malam itu. Ibu membuka pintu, berjalan melewati ruang tamu dan membaringkan diri di sofa ruang tengah hingga tertidur. Aku pun turun untuk melihatnya. Kupandangi wajahnya yang sendu dalam tidurnya itu. Nafasnya terdengar lirih karena lelah, dan kuperhatikan tubuhnya kian kurus termakan usia. Kulepas high heel hitam yang ia kenakan dan menaikkan kakinya yang tengah menggantung serta membalut tubuhnya dengan selimut. Aku duduk didepan kepalanya agar bisa memperhatihan wajahnya lebih dekat.

“Ibu, malam ini adalah purnama. Sang rembulan tampak penuh menampakkan lingkarnya. Kau pernah mengatakan padaku bila malam telah menampakkan rembulan penuh, maka esok adalah hari baik untuk menikmati indahnya hari. Kau pun sering membawaku untuk melihat awal indahnya hari itu bersama dipantai.

“Ibu, sudah cukup yang ibu lakukan. Jika ibu mulai lelah maka bersandarlah padaku. Aku adalah anakmu. Bahuku cukup kuat untuk kau bersandar. Ibu, aku akan segera menikah. Sudah cukup ibu mengkhawatirkanku selama ini. Letakkan semua beban yang ada dipunggungmu dan berilah kesempatan padaku untuk merawatmu. Jika purnama datang kembali, marik kita pergi ke pantai bersama untuk melihat awal dari hari indah itu.”

***

“Usai kerja besok aku akan mengantarmu kebutik untuk memesan gaun pengantin.” Ujar kak Ihsan dengan penuh semangat untuk mempersiapkan pernikahan kami.

“Tidak usah, aku akan meminta ibu pergi menemaniku. Aku ingin ibu yang memilihkan gaun pengantinku.” Pintaku pada lelaki yang akan menjadikanku wanitanya itu lewat telefon.

“Baiklah, hati-hati dijalan.” Ujarnya kembali menutup telefon.

Aku menemui ibuku yang tengah duduk menonton televisi. Aku duduk didepannya dan menatapnya.

“Ada yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya ibu setelah mematikan televisi.

“Boleh aku meminta ibu untuk menemaniku memesan gaun pengantin dan memilihkannya untukku?” Pintaku. Ibu pun menganggukkan kepalanya mengiyakan.

Malam itu kami pulang dari butik tempat kami memesan gaun pengantin. Kemacetan kota jakarta yang disertai derasnya hujan menghambat kami untuk pulang sesegera mungkin. Aku menatap keluar jendela dan menatap indahnya purnama bulan November ini. Ingatanku kembali pada saat dimana ibu dan ayah memegang tanganku dan membawaku untuk pertama kalinya ke pantai. Di malam yang mendung ini pun purnama bulan itu tampak memenuhi wajahku.

“Retha.” Panggil ibu.

“Ya?” aku menolehkan pandanganku untuk menatap wajah ibu yang tiba-tiba tersenyum padaku.

“Ibu lelah, kepala ibu sudah mulai terasa berat. Besok pagi, mari kita pergi ke pantai bersama untuk melihat awal dari indahnya hari.” Air mataku pun mengalir begitu derasnya.

 

THE END

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Purnama Mendung

  1. Ceritanya kok loncat-loncat…endingnya ngak dapet…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s