SIFAT KETUHANAN MANUSIA

roses_and_butterfly

Musim semi tiba, dan alam mulai bergumam dalam bisikan gemercik sungai ditemani bunga-bunga hingga jiwa manusia dibuat bahagia dan riang gembira.

Kemudian dengan tiba-tiba alam mengamuk, memporak-porandakan kota yang indah. Manusia pun mulai melupakan gelak tawanya, kemanisannya, dan segala kebaikannya. Dalam sekejap kekutan buta mengerikan telah melantakkan apa yang pernah dibangun dari generasi ke generasi. Maut mengerikan mencengkeram manusia dan binatang dalam cakar-cakar tajamnya sekaligus mengkoyak-koyak mereka.

Ditengah-tengah mengerikannya badai kehancuran yang muncul dari perut bumi, dipusat kepedihan dan reruntuhan, berdiri jiwa yang malang menatap semua itu dari kejauhan. Merenung dengan penuh kedukaan atas lemahnya manusia dan Kemaha Kuasaan Allah. Ia merenungkan musuh manusia yang tersembunyi dibawah permukaan bumi dan diantara tebaran atom-atom segala anasir. Dia mendengar ratapan pedih para ibu dan anak-anak lapar yang kemudian ia berbagi penderitaan bersama mereka. Ia merenungi keganasan cuaca dan begitu kecilnya manusia. Ia mengigat kembali betapa baru kemarin anak-anak manusia tertidur lelap dengan amannya di rumah – namun sekarang mereka menjadi gelandangan melata tak berumah, meratapi keindahan kota seperti dulu mereka pandangi dari tempat jauh. Harapan mereka berubah keputusasaan. Keriangan menjadi kesedihan dan kehidupan penuh damai berganti medan peperangan. Ia menderita bersama mereka yang tercabik-cabik oleh cakar-cakar baja kepedihan, penderitaan, dan keputusasaan.

Kemudian ketika jiwa berdiri di sana merenungi, memendam pedih, dan bimbang akan keadilan Hukum Allah yang mengikat seluruh kuasa dunia, ia pun membisiki telinga kesunyian :

“Di balik semua ciptaan ini ada kebijakan abadi yang melahirkan kemurkaan dan kehancuran, namun nanti akan tumbuh keindahan yang tak terduga.

“Sebab api, petir, dan badai adalah untuk hati manusia. Sementara negeri yang sedang dilanda derita itu memenuhi cakrawala dengan rintihan pilu dan ratapan sedih. Ingatan membawa ke dalam pikiranku segala peringatan, mala petaka dan tragedi yang pernah diperankan di atas panggung sang waktu.

“Kulihat manusia, disepanjang sejarah, mendirikan menara, istana, kuil, diatas wajah bumi. Kemudian aku saksikan bumi melupakan kemarahannya, lalu merenggutnya kembali ke dalam tubuhnya.

“Kulihat manusia hebat membangun kastil indah menjulang dan para seniman menghiasi dinding-dindingnya dengan lukisan-lukisan menakjubkan. Kemudian aku menyaksikan bumi mengangakan mulutnya, menelan semua yang telah diciptakan tangan-tangan terampil dan pikiran cemerlang para jenius.

“Aku tahu dunnia laksana pengantin cantik jelita, tiada membutuhkan intan permata ciptaan manusia untuk mengukur bobot rasa cintanya, melainkan cukup berbahagia dengan perdu hijau dari taman-tamannya, pasir keemasan dari pantainya, dan permata dari gunung-gunungnya.

“Tapi manusia dengan sifat ketuhanannya kulihat berdiri tegap laksana raksasa ditengah bencana dan kerusakan menertawakan kemarahan bumi dan amukan badai”.

Seperti pilar cahaya, manusia berdiri di pusat reruntuhan Babilonia, Nineveh, Palmyra, dan Pompei sambil menyanyikan senandung tembang keabadian,

“Biarkan bumi mengambil

Apa yang memang miliknya

Bagi aku, manusia, tidak punya akhir.”

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke SIFAT KETUHANAN MANUSIA

  1. anarif berkata:

    HANYA MANUSIA RAHASIA AKU AZALI ABADI. TANPA PERMULAAN.. TANPA KESUDAHAN.. DIRI PUN TIADA.. //KATA NABI ” LA ILAHA ILA ANA.. KESEMUANYA TIADA KECUALI AKU ” // TANPA REMEH TEMEH. SUNGGUH MANTAP.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s