Lyra

images_102Sang Malam hadir dalam geliat hidup yang penuh dengan kegelapan. Menaungi setiap kesedihan yang hadir pada dunia. Lyra lahir dan hidup dalam keberuntungan. Bukan…. lebih tepatnya beruntung karena telah dilahrkan. Keberadaan Lyra hanya seberkas kecil di langit malam dalam penuh ketidak sadaran. Lyra bagaikan mimpi di musim panas yang berlalu begitu saja…. bagai Sang Embun. Lyra adalah cahaya kecil yang menampung setiap air mata dunia. Hingga takkan jatuh.

Lyra dan tubuh kecilnya merangkul kesedihan menghadapi dunia yang keras. Menghapus setiap mendung yang hadir di tengah malam. Keindahan Sang Malam terlihat jelas dikala Lyra hadir di setiap malam penuh panas. Namun ingatan tentangnya pun terhapus dari dunia setiap musim dingin tiba.

Pernah Lyra bertanya pada Zeus mengapa Sang Dewa menempatkannya di langit, dimana setiap malamnya ia melihat dunia yang begitu kejam. Merasakan kesakitan yang begitu mencekam kala Sang Surya berkuasa. Mengapa hanya saat musim panas? Ketika Lyra merasakan kerinduan panjang yang membuatnya merintih di setiap malamnya.

Lyra hanya seberkas titik putih kecil yang menemani Sang Langit Malam dalam panasnya dunia. Memandangi lalu lintas kehidupan di dunia yang penuh emosi. Meniupkan dahaga pada daun kering yang telah tanggal. Mengamati setiap kedustaan yang menempel pada dunia bagaikan topeng. Mengupas sempurna kesedihan dalam hati dunia yang kian merapuh.

Bahagia Lyra adalah bahagia Sang Langit Malam yang menyempurnakan keberadaannya. Kesedihan Lyra hanyalah Orfeus yang menengggelamkan hatinya dalam genangan darah hitam pekat. Terang Lyra adalah Sang Appolo, Sang ayah yang menciptakannya dengan penuh emosi yang terpaut pada setiap dawainya. Hening langit malam adalah kedamaian baginya. Bagaikan ketabahan yang harmoninya lebih merdu dari symphony Embun pagi. Lautan lepas adalah cermin sempurna yang dapat membantunya melihat kebisuan dirinya.

Setengah kebahagiaan Lyra telah terkubur bersama Orfeus dalam pusara waktu. Setengah kebahagiaannya yang lain terlarung hilang dalam derasnya hanyutan Sungai Roak.

Lyra menatap sang Tiran yang tengah berdiri mengukuh pada kesombongan. Menjatuhkan nestapa pada sengsara. Dunia…. bagi Lyra adalah Sang Tiran yang serupa dengan topengnya.

Langit Malam…. baginya adalah tempat paling teduh dalam derasnya kebusukan yang menghiasi dunia. Sang Malam…. adalah kedamaiannya dalam panasnya keangkuhan. Cantiknya Selenic…. adalah Ibu penuh kehangatan yang merengkuh Lyra dalam dinginnya Sang Malam. Lyra adalah bentuk dari kerinduan. Lyra…. hadir bagai cermin dari kebisuan dunia.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s